Taman Bunga Sang Pujangga

Taman Bunga Sang Pujangga

Wahai engkau sang pujangga,
Yang mampu menyihir pagi menjadi sebuah kopi
Yang pahit tapi mampu membuka misteri awal kehidupan
dan yang mampu menyulap siang menjadi cambuk
agar kehidupan yang lelah dapat dijalani walau dengan paksaan
dan atau engkau yang mampu menggaibkan malam menjadi sebuah irama yang merdu
yang merangkum nada-nada dari dawai yang masih terikat kencang
atau yang putus pada harpa-harpa ciptaNya
Aku adalah umat yang membaca kitabmu jua
atau mungkin ia adalah cahaya bijak yang kau pijarkan
yang kau nyalakan dari pelita hati yang padam dari setiap umatmu
Ijinkanlah aku
Ijinkanlah aku singgah di tamanmu yang penuh dengan bunga yang pernah kau tanami di setiap masa yang kau singgahi

Wahai engkau sang pujangga,
Apakah ini bunga tulip itu, yang besarnya tak sebanding dengan mawar di desaku?
Bagaimana kau menanamnya? bukankah ini hanya tanaman yang hanya hidup di negeri yang daratnya tak lebih tinggi
dibanding bahnya yang luas tak berbatas?

Ataukah apakah ini,
bunga melati yang katanya adalah bunga pertama yang kau ajak bercinta di malam pertama
engkau bercinta dengan kekasih hati yang selamnya hidup dalam jiwamu?

Tapi yang benar buatku heran
dan yang paling aku harapkan lihatku akan taman megahmu
Adalah bunga yang bertanam diantara tanah-tanah tandus khas desa halamanku
; Ialah bunga bangkai yang kau rawat dengan cinta
sehingga disetiap bau yang tercipta
adalah wewangian yang lebih wangi dari pada milik seorang wanita pencinta
atau bagi ia yang menyebut dirinya sebagai piayi-piyai pemuja Tuhan kita

akh, sungguh ragaku mampu menerima
keindahan dari tiap bunga yang tumbuh ditamanmu,
wewangian yang ditimbulkan dari kombinasi-kombinasi alam
yang menurutmu adalah cinta, derita, bijak, kedengkian, nafsu
dan seluruh rasa yang hidup dalam setiap nafas jiwa sang pemujamu
; walau dengan rasa malu harus kuakui
Jiwaku masih mencari bentuk dari alomorf-alomorf kata
yang mekar dalam setiap bunga di tamanmu

Wahai engkau sang pujangga,
Ijinkan aku memetik satu bunga dari tamanmu
;bukankah itu tak merusak indahnya yang tetap abadi
walau waktu semakin layu untuk merawat keindahan warna dari tiap kelopak bungamu
Ijinkan aku menanam nantinya
walau bila akhirnya tak kutemukan tanah di desaku untuk ditanami
kan sembahkan hati ini untuk bersedia rela menjadi tempat bunga itu tumbuh
tau mungkin, kan kurampas tanah dari desa mereka yang tak mengenal namamu
;
Sungguh, maka berikanlah itu
karna memang lain datangku adalah itu
Memetik dan menanam di tanahku

Wahai engkau sang pujangga,
Sebelum aku pergi dari tamanmu
inginku meyakinkanmu
bahwa benar adanya aku adalah seorang papa
seperti yang sudah terlihat di batinmu yang bijak
yang telah membaca beratus ribu kehidupan
Maka dengan adanya,
maklumilah aku bila meminta-pinta

Iklan

Perihal rizalihadi
Aku iki pentil sing balak. Isih cilik, ijo, durung mateng lan dipeksa katon mateng. Nanging ora apa, jalaran ngelmu iku kalakone kanthi laku :)

8 Responses to Taman Bunga Sang Pujangga

  1. lia says:

    halah gedawan…suwi pahame…..: P

  2. rizalihadi says:

    ha..ha..
    ya begitulah. Seperti Ia… 😀

  3. astrid says:

    panjang amat tulisannya
    permintaannya…. cuma secuil?
    tapi.. aku suka bacanya…
    seperti diajak jalan-jalan
    ke kebun raya bogor…
    katanya, disana banyak bunga
    mau…?

  4. rizalihadi says:

    bunga apa saja, mba
    ? 😀

  5. Bean says:

    Pak Rizal,
    crito kidang.e drg putoes..
    kamis sesok di lanjutke ow..

  6. Apria says:

    puisinya panjang banget ini whi… :)>- good… nice poem

  7. LThu says:

    he’e puanjang….. berapa lama yaa bikinnya?

  8. BambangW says:

    Benar-benar pujangga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: