Taman Bunga Sang Pujangga

Taman Bunga Sang Pujangga

Wahai engkau sang pujangga,
Yang mampu menyihir pagi menjadi sebuah kopi
Yang pahit tapi mampu membuka misteri awal kehidupan
dan yang mampu menyulap siang menjadi cambuk
agar kehidupan yang lelah dapat dijalani walau dengan paksaan
dan atau engkau yang mampu menggaibkan malam menjadi sebuah irama yang merdu
yang merangkum nada-nada dari dawai yang masih terikat kencang
atau yang putus pada harpa-harpa ciptaNya
Aku adalah umat yang membaca kitabmu jua
atau mungkin ia adalah cahaya bijak yang kau pijarkan
yang kau nyalakan dari pelita hati yang padam dari setiap umatmu
Ijinkanlah aku
Ijinkanlah aku singgah di tamanmu yang penuh dengan bunga yang pernah kau tanami di setiap masa yang kau singgahi Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Pertanyaan

Kawan,

Sepertinya kita kehilangan bara untuk membumihanguskan dunia

Aku tak tau siapa yang mencurinya

Bukankah sudah kau sembunyikan itu pada Jiwa-jiwa pemberontak

Pada jiwa-jiwa lapar yang terhimpit ideologi? Baca pos ini lebih lanjut

Trah

Ayah,

Kenapa kau beri aku suatu kutukan?

Apa salahnya bila aku hanya ingin menjadi debu

bebas mengotori apa siapa saja Baca pos ini lebih lanjut

Nguri-uri Basa lan Budaya Jawa Geneya Kudu?

Pentil isih kelingan nalika cilikan biyen dolanan ana pelataran omah -kaya wes gedhe wae. Pelatan kangĀ  jembar iku dadi suwargane kanca-kanca kanggo dolanan benthik, patahan, bentengan lan liyane. Iya, kuwi mau dolanan sing kerep dimaenake sabudhale sekolah. Saiki? pelataran mau wes dadi gedhong sing megrang-megrang. Akh…

Beda cerita ning isih jaman cilikan. Wektu kuwi Pentil didhawuhi bu Lik jupuk katul ana tangga teparone. Nalikane bali gawa katul, bu Lik lagi metu omah lan sing ana omah mung simbah. “Mbah, iki katule”, karo bengok banjur bladhas lunga. Merga kedadyen kuwi, seminggu dadi omongane bu Lik yen aku ora duwe sopan santun lan tata krama marang wong tuwa. Huft…

Kuwi mau crita nalikane Pentil isih cilik. Banjur sing dadi perkara apa? Baca pos ini lebih lanjut

(Bagian satu)

(bagian satu)

Pagi membunuh malam dengan kejam
dengan beribu cahaya ia tusukkan
harapan yang menjadi racun bagi pemuja kelam
memang benar
malam adalah keputusasaan
yang merenggut berjuta mimpi para musafir
Tapi bukankah dengan cara itu ia beri makan anak-anak serigala lapar? Baca pos ini lebih lanjut

Ku namakan kau Rizal

Ku Namakan kau Rizal

Ku namakan kau rizal
karena dulu ada seorang yang kukagumi
hanya seorang yang suka berlari
Mencari dan menjemput satu bola
di atas hijau yang meluas
Bertarung tanpa lelah untuk dibagi sesama
Ya, namanya rizal


Baca pos ini lebih lanjut

-Bukan- Catatan Doa

Ijinkan aku lebih mengenalmu

Lebih dekat

Seperti cinta yang Kau turunkan atasku

Sebelum benar inginMu bersamaku

Baca pos ini lebih lanjut