irono hari
Gerimis senja basahi catatan hari
Hanya terkesima melihat lukisan stasiun tua
Dimana sang kereta membawa koper-koper manusia buta kepada lembah peraduan
Nyalakan lentera zaman
Matahari sudah tenggelam
Dimakan laut yang tamak! (lagi…)
irono hari
Gerimis senja basahi catatan hari
Hanya terkesima melihat lukisan stasiun tua
Dimana sang kereta membawa koper-koper manusia buta kepada lembah peraduan
Nyalakan lentera zaman
Matahari sudah tenggelam
Dimakan laut yang tamak! (lagi…)
Surat untuk angin II
dia
memang jalang memang binatang
dia
kucingnya hanya bisa menyakar-nyakar daging busuk
dia
huh…hanya sibuk menghitung laba jualan sikat gigi
dan dia…
hanya terus pamerkan ekornya yang kata orang cantik (lagi…)
Bulan Pada Suatu Ketika III
;Pagi ini aku telihat pucat kecu
Semalam aku menjagamu
;Siang ini aku terlihat hitam
Makannya mereka lebih suka menyebutku gerhana (lagi…)
Bulan Pada Suatu Ketika II
;bulan itu suka sepi
Itu sembunyi
Itu sendiri
Itu malu
Walau galau
Tak pernah sendiri
Bulan Pada Suatu Ketika I
Ini inginmu pada bulan disuatu ketika;
Aku ingin melihatmu membuka pagiku
Bersama mentari
Aku ingin merasakan panasmu disiangku
Jangan matahari (lagi…)
“Rhiezalogica”
Bila inginmu berlayar di samuderaku
Jangan gunakan sekocimu
Setidaknya siapkan dua kapal empat layar
atau simpan dua tabung oksigen di dadamu
Tatkala inginmu selami dalamnya
Sekedar oret-oretan di hari minggu…
Huh, tak kusangka rasanya lelah juga ketika kita hidup dalam dunia khayal. Aku kira itu mudah sekali. Tinggal “mosisi” trus “mbayangke” singiya-iya. Tapi tak semudah itu, ternyata itu rumit juga. Kita harus mempunyai apa yang disebut “level imajinator” yang tinggi. Untuk memadukan mimpi dan kenyataan agar tidak terperangkap di dalamnya cukup sulit sekali. Terpeleset sedikit saja RSJ sudah menanti. (lagi…)
Jasad pada sebuah masa
Kembali pada sebuah masa dimana aku bisa mengeja “Cinta”
Hatiku tlah terkubur lama
Bukan mati pada kematian
Tapi mati untuk sebuah kehidupan
“Hatiku tlah kumandikan air mata kebahagiaan,
Mengkafaninya dengan kain nafas ketulusan,
Lalu menguburnya dengan segumpal tanah pengharapan”
Maka Hati tlah kubaptis tuk trus hidup
Dan atas nama cinta kuukir nisan pisau kesabaran
Lalu kupahat Astarina diatasnya
Selamanya…
Hidup
Selamanya…
Mati…
Selamanya…
Februari 08
Tentang “K” “S” dan “N”
Pagi yang kau sembunyikan di dadamu
Adalah kelemahan yang kau curi dari gelapku
Setiap detiknya adalah sapuan
Seperti saat kau telanjangi ranting cemara kering
;lenyap sebelum ku ucap (lagi…)
Klimaks
Jika yang teryakinkan adalah ketidak pastian
Dan meragu merupakan pilihan
Lalu telah sampai mana kita berjalan?
Kebenaran yang kita pijaki telah menyentuh persimpangan
kaki yang melihat tak sampai pada punggung yang tak saling berhadapan
Lantas layakkah hati dipercaya? (lagi…)